Arrival: Menjalin Penanda, Menjala Makna

Dr. Louise Banks (Amy Adams) tercenung. Ada imaji di benaknya tentang seorang anak perempuan yang tumbuh dewasa, lalu meninggal karena kanker. Imaji itu menyerupai kenangan masa lalu.

Namun, ia engah: hidupnya bukan dalam imaji. Membagi pengetahuan bahasa kepada para mahasiswa adalah tugasnya. Louise seorang ahli bahasa yang sehari-hari mengajar di sebuah universitas.

Bagi Louise, kejadian pagi itu sangat berbeda dari biasanya. Pada mula pengajaran, Louise dikejutkan suasana kelas yang tidak biasa dan laku aneh mahasiswanya.

Selain tidak semua bangku kelas terisi, semua mahasiswa yang hadir, secara mendadak, melihat ponselnya masing-masing. Dari layar ponsel mereka terlihat tayangan berita tentang kemunculan benda aneh–serupa setengah bola, hitam, dan danawa–di 12 lokasi.

Sejumlah benda asing mendarat di bumi!

Louise tergamang. Di kampus tempatnya mengajar, seketika, tidak ada orang lalu-lalang. Ia sendiri. Hingga, pada suatu waktu, Kolonel Weber (Forest Whitaker) mendatanginya.

Ia meminta bantuan Louise untuk memecahkan impase komunikasi dengan makhluk asing, penghuni benda aneh yang memicu aneka keganjilan di kehidupannya.

Louise menyambut baik tawaran kerja sama dari Kolonel Weber. Namun, ia mengajukan satu syarat: menghadapkannya langsung dengan makhluk asing tersebut. Kolonel Weber menolak.

Namun, Weber sadar, tidak ada pilihan lain lagi selain mengamini kemauan Louise.

Sang Kolonel kemudian menjemput Louise di kediamannya untuk menuju lokasi keberadaan benda asing.

Louis, sang ahli bahasa, berduet dengan seorang ilmuwan (fisikawan, matematikawan), Ian Donnelly (Jeremy Renner).

Di kamp militer Amerika Serikat, di Montana, tempat lokasi pendaratan benda asing, ratusan personel tentara berkelimun dengan perangkat lengkap. Sepasukan ilmuwan dan ahli bahasa lain siap membantu Ian dan Louise menjalin komunikasi dengan makhluk asing.

Aksi serupa ternyata juga dilakukan oleh 12 negara lain yang kedatangan “tamu asing”, termasuk Tiongkok. Semua negara menjalin komunikasi melalui layar kaca untuk memperbarui informasi.

Sadar dikejar waktu, Louise dan Ian langsung bertugas untuk berhadapan dengan makhluk asing. Perangkat baju khusus pun dikenakan oleh keduanya untuk bertatap muka dengan para alien.

Di hadapan dua alien yang diterungku serupa layar putih, Louise kembali berimaji. Ia seperti mendapati bayangan masa lalu tentang hidup anaknya.

Membaca Penanda

Gagal pada kesempatan pertama, Louise dan Ian kembali menemui alien yang tinggi besar berkaki tujuh itu.

Kali ini, Louise nekat: ia singkap baju khusus pelindung radiasi dan mencecah layar yang menyalut alien. Aksinya ditiru oleh Ian dan keduanya mulai berkomunikasi dengan heptapod, sebutan dua alien itu.

Sentuhan ke partisi itu disambut heptapod dengan simbol lingkaran berpola khusus.

Ini langkah maju! Komunikasi mulai terjalin! Semua ilmuwan mulai menerka dan meraba makna lingkaran berpola itu.

Louise kembali ketamuan imaji tentang kenangan bersama anaknya. Namun, kini, ia tidak terganggu dengan imaji itu.

Agar aktivitas komunikasi terus berkembang, Louise mulai merekayasa teori Triangle of Reference untuk menjala makna.

Louise menerakan kata L-O-U-I-S-E pada selembar kertas, begitu pun Ian menuliskan I-A-N pada kertas lain yang mereka pegang masing-masing. Kata itu menjadi simbol (symbol) atas acuan (referent) diri mereka masing-masing.

Melalui simbol dan acuan itu, alien yang kini diberi nama Costello dan Abbott dapat menangkap gagasan (thought of reference) yang sama: identitas diri.

Benar saja, Abbott dan Costello, masing-masing melempar simbol lingkaran berpola beda.

Dari sini, Louise mulai mengenalkan aneka kata untuk memperkaya perbendaharaan kosakata alien.

Langkah memperkenalkan bahasa manusia sempat ditentang oleh Weber yang menganggap upaya itu dapat membahayakan ras manusia. Sebab, katanya, para alien dapat makin pintar.

Namun, tentangan itu sama sekali tidak menghentikan upaya Louise dan Ian untuk terus mencari cara agar komunikasi dengan alien bisa terus berjalan.

Langkah maju komunikasi ini terus berlanjut hingga Louise perlahan mulai menemukan pola aksara alien.

Louise dan Ian mulai memberanikan diri menanyakan tujuan kedatangan alien.

Mereka kembali menerakan simbol melingkar berpola yang terbaca ‘menawarkan senjata’.

Terjemahan lain rupanya ditangkap Tiongkok yang menerjemahkan simbol alien itu sebagai ‘menggunakan senjata’.

Tiongkok panik dan memutuskan kontak dengan negara lain. Mereka lantas menyiapkan senjata lengkap untuk melakukan penyerangan terhadap alien.

Namun, Louise menafsirkan senjata sebagai alat atau hadiah atau teknologi.

Artinya, para alien ingin menawarkan teknologi. Namun, prasangka kadung menggelayut di pikiran banyak orang.

Abbot Sekarat

Sejumlah tentara yang termakan provokasi perang melawan alien berupaya untuk meledakkan “kapal” alien itu.

Sementara itu, Louise dan Ian, yang belum engah dengan rencana para tentara itu, kembali berkomunikasi dengan Abbott dan Costello. Namun, kali ini, Louise merasa ada yang tidak beres dari gelagat para alien.

Benar saja, sebelum ledakan pecah, Abbott melempar Louise dan Ian keluar kapal supaya terhindar dari ledakan.

Ian dan Louise pingsan. Louise kembali berimaji tentang anaknya. Dari imajinya, Louise menduga simbol-simbol alien itu berkaitan dengan konsep waktu.

Para alien ingin berbagi pengetahuan dengan manusia tentang konsep waktu! Sadar akan temuannya, Louise kembali ke kapal para alien.

Di sana, Louise mendapat kabar dari Costello bahwa Abbott sekarat.

Di tengah persiapan Tiongkok menyerang kapal alien yang diikuti oleh negara lain, termasuk AS, Louise dituntut segera memecahkan kode dari para alien.

Akhirnya, Costello menjelaskan, sebenarnya, imaji Louise adalah bayangan masa depan Louise.

Saat bertemu dengan Costello, Louise belum mempunyai pasangan dan anak. Semua imajinya adalah masa depan yang akan terjadi.

Costello berharap, dengan memberikan bantuan kepada manusia, mereka juga akan dibantu dalam kurun 3.000 tahun dari sekarang.

Dengan begitu, Louise sebenarnya sudah mampu memecahkan kode alien andai saja ia cepat sadar akan kemampuannya melihat masa depan.

Melihat Masa Depan

Di tengah evakuasi kamp militer, Louise kembali berimaji tentang dirinya yang menerbitkan buku Bahasa Universal. Pada gala peluncuran bukunya, ia membaca simbol lingkaran berpola milik alien.

Masih di imaji Louise, pada acara PBB, Jenderal Shang (pemimpin Tiongkok) menyambangi Louise. Ia mengucapkan terima kasih karena telah menyampaikan kalimat istrinya yang menggugah emosi dan memutuskan untuk menghentikan perang.

Melihat gambaran itu, Louise langsung menghubungi Jenderal Chang lewat ponsel milik petinggi militer AS yang tergeletak di meja. Di sana, Louise menyampaikan kalimat yang sama dengan apa yang dia lihat di imajinya.

Perang terhindarkan. Para alien selamat dari gempuran dan mereka menghilang dari 12 lokasi.

Louise mulai engah. Pasangan yang akan melahirkan anak perempuan bernama Hannah adalah rekan sejawatnya, Ian.

Nama Hannah dipilih karena keunikan pembacaannya, baik dibaca dari depan maupun dari belakang tetap sama: Palindrom.

Louise tetap menjalani hidup sebagaimana yang tergambar di imajinya, kendati ia sadar bahwa Ian akan meninggalkannya setelah mengetahui Hannah akan tumbuh dewasa dan meninggal karena kanker.

Namun, menjalani hidup dan menentukan pilihan adalah hal yang amat penting bagi Louise. Ia mengabaikan masa depan yang akan memagutnya kelak. Dan itu menyedihkan. (asw)

—–

Arrival (2016)

Sutradara: Denis Villeneuve; Produser: Dan Levine, Shawn Levy; Penulis Naskah: Eric Heisserer; Genre: Drama, Fiksi Ilmiah; Durasi: 116 menit; Bujet: $ 47 juta; Pemeran: Dr. Louise Banks (Amy Adams), Ian Donnelly (Jeremy Renner), Kolonel Weber (Forest Whitaker)

Berdasarkan cerita pendek Story of Your Life karya Ted Chiang (1998)

Sumber data dan gambar: IMDB

Leave a comment