Seringkali rasa simpati terhadap sesuatu melahirkan toleransi berlebih yang kemudian memengaruhi sebuah penilaian. Film yang diproduksi dengan segala keterbatasan, misalnya, tetapi menawarkan ide brilian, cenderung “dipaksakan” agar dianggap produk bagus kendati memiliki minus di sana-sini.
Prasangka seperti itu sempat muncul di benak saya saat film Tengkorak tayang di bioskop pada medio Oktober 2018. Bahkan, hingga saya berkesempatan menikmati tayangannya, syak tersebut masih betah tinggal di kepala.
Keraguan itu kian menjadi saat saya mendengar cekikikan sejumlah penikmat film tersebut yang keluar ruang bioskop bersama saya seusai tayangan. Terdengar lamat-lamat dari bibir mereka ungkapan, “Kok gue gak ngerti, ya.”
Sekali lagi, saat itu, prasangka saya makin menebal.
Hingga akhirnya saya memutuskan untuk memelototi lagi poster film Tengkorak yang mejeng di dinding koridor gedung bioskop dan mendapati frasa kunci: Rediscovering Humanity.
Frasa itu diam-diam membongkar bangunan syak di kepala saya untuk kemudian, secara perlahan, menarik lagi memori tentang adegan dan dialog film tersebut.
Benar saja, “ending aneh” yang bikin penonton cekikikan itu rupanya memiliki maksud. Ya, malah akhir cerita itu bisa mengantarkan sutradaranya ke sejumlah ide lain untuk sebuah sekuel.
Tengkorak mau menggugat kuasa manusia lewat sajian film bergenre fiksi ilmiah lokal!
Itu brilian. Kesimpulan saya bukan berangkat dari rasa simpati atau empati karena produksi film yang dilingkupi aneka keterbatasan, tetapi justru berlandaskan dua hal.
Pertama, karena film itu menawarkan ide segar tentang kemanusiaan. Tengkorak mempertanyakan kodrat manusia sebagai penguasa bumi atau selaku entitas yang otoritatif atas kelangsungan hidup sesama manusia dan alamnya.
Kedua, karena film itu berani mengambil genre fiksi ilmiah dan lokal di tengah hiruk pikuk aneka produk sinematik dalam negeri yang gandrung pada genre horor dan percintaan.
Gugatan tengkorak atas kuasa manusia sebenarnya terlihat sejak awal tayangan.
Setelah informasi penemuan fosil tengkorak sepanjang hampir dua kilometer di sebuah bukit yang terletak di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta terungkap, montase rekaman perdebatan antar sejumlah kalangan di berbagai stasiun televisi menghiasi tayangan.
Para ilmuwan, agamawan, hingga masyarakat awam di tingkat lokal, nasional, dan internasional saling melempar kata perihal penemuan itu.
Perdebatan kemudian berlanjut antara perlu-tidaknya penyelidikan lebih lanjut dilakukan atau malah kebutuhan akan penghancuran situs bukit tempat tengkorak raksasa itu bersemayam.
Semua mengatasnamakan manusia. Semua mengamini bahwa manusia itu makhluk super unggul dan cukup bahkan sangat otoritatif untuk membuat keputusan besar.
Ada yang bilang penemuan tersebut akan mengganggu kelangsungan sejarah hidup manusia sehingga harus dimusnahkan. Ada juga yang mengatakan perlunya pengungkapan yang lebih mendalam atas nama ilmu pengetahuan.
Pemerintah setempat rupanya mengambil jalan tengah: penyelidikan dilakukan, tetapi penyajian hasilnya dibatasi hanya untuk konsumsi segelintir orang.
Badan Penelitian Bukit Tengkorak (BPBT) didirikan seturut dengan pembentukan Tim Kamboja, gabungan pasukan militer dan paramiliter, yang akan mengawasi proses penyelidikan itu.
Kemudian kita berkenalan dengan Yos (Yusron Fuadi), yang di awal cerita sosok dan identitasnya sulit dikenali, hingga adegan perjumpaannya dengan Ani (Eka Nusa Pertiwi).
Kita akhirnya memahami, Yos adalah paramiliter, semacam mata-mata, yang ditugasi membunuhi orang-orang yang berpotensi mengungkap hasil penyelidikan bukit tengkorak.
Sementara Ani adalah seorang mahasiswi semester 7 yang berkesempatan bekerja di BPBT untuk mencari uang demi membiayai kebutuhan kuliahnya.
Konflik muncul setelah interaksi Ani dengan profesor peneliti bukit tengkorak dinilai berpotensi membocorkan hasil penyelidikan ke pihak tidak berwenang.
Ani menjadi sasaran pembunuhan Tim Kamboja sampai akhirnya Yos menyelamatkannya dan melarikan diri ke tempat aman.
Dialog antara Ani dan Yos perihal penghabisan nyawa oleh Yos kepada terduga pembocor rahasia negara menjadi penguat ide betapa manusia sungguh sangat otoritatif untuk mencabut nyawa sesamanya.
Manusia merasa mampu melakukan semua hal termasuk memutuskan untuk menghancurkan situs bukit tengkorak yang sebenarnya merupakan tempat tinggal dan interaksi masyarakat setempat.
Apa yang terjadi sesudahnya adalah serangkaian penyingkapan misteri oleh Ani ala film bergenre thriller Hollywood, tetapi yang ini versi lokalnya.
Bahasa dan logat Jawa menghiasi sebagian besar dialog. Latar film begitu Indonesia sekali beserta perlengkapan mata-mata seadanya yang diupayakan kelihatan canggih.
Kejutan di akhir cerita sekaligus menjadi bukti keabsahan genre fiksi ilmiah dan thriller yang diusung Tengkorak.
Tidak perlu mengerutkan dahi atau cekikikan sebab gaya penceritaan film Hollywood mengenai invasi alien ada yang seperti itu. Bedanya, Tengkorak belum menyajikan efek visual, sinematografi, dan penyuntingan adegan yang halus laiknya film-film Hollywood.
Meski begitu, sebagai sebuah karya sinematik dalam negeri, patutlah Tengkorak dapat tempik sorak sekeras-kerasnya. Sekali lagi, ini bukan karena simpati atau empati, melainkan karena dua hal: ide cerita dan keberanian mengangkat genre fiksi ilmiah.
Atas dua hal itu, laiklah jika Cinequest Film Festival USA memasukkan Tengkorak ke dalam nominasi film terbaik bergenre fiksi ilmiah, fantasi, dan thriller serta Jogja-Netpac Asian Film Festival menayangkannya dalam Special Gala.
Untuk dua hal itu, Tengkorak sudah bikin gebrakan. (asw)
Tengkorak (2018)
Sutradara: Yusron Fuadi; Penulis Skenario: Yusron Fuadi; Produser: Athanasia Astrid, Syamsul Barry, Anindita Suryarasmi, Munandar Aji, Dewi Anggraini; Genre: Fiksi Ilmiah, Fantasi, Thriller; Durasi: 130 Menit; Perusahaan Produksi: SV UGM; Bujet Film: IDR 500 Juta; Tanggal Edar: 18 Oktober 2018; Batas Usia Penonton: 17+
Pemeran: Yos (Yusron Fuadi), Ani (Eka Nusa Pertiwi), (Guh S Mana), (Rukman Rosadi), (Kedung Dharma), (Darwis Triadi), (Giras Basuwondo) dan (Wikan Sakarinto)
sumber data: filmindonesia.or.id