All roads lead here. Begitulah tagline film ini. Hotel/Motel El Royale yang berdiri tepat di perbatasan California-Nevada itu seperti magnet dengan daya tariknya yang kuat. Pemicunya sudah kita ketahui sejak adegan pertama.
Seorang pengunjung hotel dengan gelagat penuh kegelisahan terlihat menyembunyikan sebuah tas, yang tentunya berharga, di bawah lantai kayu kamar huniannya.
Kegelisahan mereda setelah seorang tamu, yang sebelumnya mengetuk pintu kamar, disambut oleh penghuninya dan langsung meluncurkan peluru ke punggung si penghuni nahas.
Darah menyembur dan layar kita pun tepercik olehnya. Penghuni kita mati dengan tas yang terkubur aman di bawah lantai kamar. Latar waktu 1959.
Berselang 10 tahun, empat pengunjung hotel datang. Mereka itu Daniel Flynn (Jeff Bridges), Pastor Katolik; Darlene Sweet (Cynthia Erivo), penyanyi; Laramie Seymour Sullivan (Jon Hamm), penjual alat penyedot debu; dan Emily Summerspring (Dakota Johnson), perempuan hippi.
Keempatnya disambut oleh pegawai hotel bernama Miles Miller yang baru muncul setelah Darlene Sweet menggebuk pintu sebuah kamar di sisi meja resepsionis.
Kita tahu ada yang aneh dari hotel tersebut setelah si penjual alat penyedot debu menjelaskan, hotel itu pernah disinggahi para bangsawan dan petinggi negeri Abang Sam (AS).
Hotel mulai sepi sejak sejumlah izinnya dicabut, termasuk izin penyelenggaraan judi. Namun, toh, hotel tersebut tetap punya daya tarik setidaknya bagi empat orang itu.
Kita mengetahui kemudian bahwa para pengunjung itu membawa rahasianya masing-masing ke El Royale.
Sullivan ternyata seorang agen FBI bernama Dwight Broadbeck yang ditugasi untuk sebuah misi khusus. Dari dialah kita mengetahui rahasia gelap El Royale yang tersimpan di koridor tempat tinggal si resepsionis kita, Miles Miller.
Lewat penemuannya itu, kita mempunyai modal untuk berkenalan dengan para penghuni yang kelihatan misterius.
Pastor Flynn berkaitan dengan adegan pertama film. Namun, siapa sebenarnya sosok di balik si penyanyi dan perempuan hippi?
Secara perlahan, dengan ritme (pace) penceritaan yang lambat, kita diajak menyelami karakter para pemeran, dengan suguhan petunjuk kecil sebagai modal tebak-tebakan plot.
Dan tidak perlu waktu lama, rahasia El Royale dan resepsionisnya Miles Miller sudah terbongkar oleh semua pengunjung. Dari sini babak baru konflik dimulai.
Satu per satu sejarah hidup pemeran kita disingkap. Adegan kilas balik menceritakan sosok di balik Pastor Katolik, perempuan hippi, dan perempuan penyanyi keturunan Afro-Amerika.
Dari flashback itu, kita mendapati perkembangan karakter masing-masing pemeran. Semua pemeran kita diceritakan secara lengkap (setidaknya untuk kepentingan perkembangan karakter), termasuk pendatang baru Billy Lee, si pemimpin sekte, dan pengikut setianya, Rose Summerspring.
Tidak ketinggalan, histori seorang Miles Miller juga ikut ditampilkan, bahkan penyingkapan dirinya sungguh di luar dugaan.
Bad Times at the El Royale laiknya sebuah festival konflik tujuh pemerannya. Kita mendapati Conflict of Plot, Conflict of Character, dan Conflict of Theme.
Jalan ceritanya (plot) jelas punya konflik utama soal perjuangan menemukan tas yang dikubur di awal cerita.
Karakter pemerannya juga menyimpan konflik seperti tersaji pada adegan flashback.
Dan konflik pada tema, secara kentara, muncul, setidaknya pada diri penyanyi keturunan Afro-America kita. Simak saja dialognya saat menyindir habis Billy Lee menjelang cerita usai.
He talks so much he thinks he believes in something, but really just wants to fuck who he wants to fuck.
Kita tahu, kesadaran akan kesetaraan gender tengah jadi perbincangan hangat di jagat internasional. Gerakan #MeToo merupakan simbol kesadaran itu yang menentang kekerasan seksual kepada perempuan.
Dan petikan dialog itu tidak bisa dilepaskan dari tema yang diusung oleh gerakan penyetaraan gender tersebut.
Namun, upaya membongkar masa lalu para pemeran film itu harus berhadapan dengan risiko durasi tayang yang panjang dan cenderung membosankan. Ya, film arahan Drew Goddard itu berdurasi hampir dua jam setengah.
Namun, dengan gaya penceritaan yang penuh konflik itu, “membosankan” jadi adjektiva yang seakan hilang atau terlupakan dari benak kita, apalagi kita dipaksa menunggu pertalian dari aneka cerita yang seolah berserakan dan terpisah. Dan gaya penceritaan yang konvergen itu berhasil jadi ramuan antibosan.
Belum lagi kejutan berdarah yang seketika muncul di tengah konflik yang terbangun apik. Betul, setiap konflik dibangun secara perlahan hingga menemukan klimaksnya sendiri.
Simak saja konflik yang tersaji di lobi hotel pada pengujung cerita.
Degap-degup hati kita tak kunjung berhenti, padahal tidak ada scoring yang mengejutkan, kecuali hanya musik latar “Hush” yang dimainkan Deep Purple.
Memang sakti ramuan pencipta konflik garapan Drew Goddard yang dikenal sebagai penulis skenario The Cabin in the Woods (2012).
Kalau situasi film mau disebut sebagai Dead or Alive (DoA), karena kita turut menanti siapa yang bakal jadi penyintas di film, Inilah DoA gaya baru.
Tidak perlu musik yang mencekam untuk menciptakan kejutan dan tidak perlu juga sajian jump scares yang berlebihan. Cukup lewat bangunan dialog yang efektif, akting apik pemerannya, serta sinematografi, dan penyuntingan gambar yang tepat, kita bakal turut merasakan ketegangan itu.
Dan Drew Goddard yang bertindak selaku pengarah film, penulis skenario, dan sekaligus produser, laik dapat tempik sorak untuk suasana mencekam yang diciptakannya.
Bad Times at The El Royale (2018)
Sutradara: Drew Goddard; Penulis Skenario: Drew Goddard; Produser: Drew Goddard, Jeremy Latcham; Genre: Misteri, Thriller; Durasi: 141 Menit; Perusahaan Produksi: Twentieth Century Fox; Bujet Film: $ 32 Juta; Tanggal Edar: 26 Oktober 2018; Batas Usia Penonton: 17+
Pemeran: Daniel Flynn/ Donald “Doc” O’Kelly (Jeff Bridges), Darlene Sweet (Cynthia Erivo), Emily Summerspring (Dakota Johnson), Laramie Seymour Sullivan/ Dwight Broadbeck (Jon Hamm), Rose Summerspring (Cailee Spaeny), Miles Miller (Lewis Pullman), Billy Lee (Chris Hemsworth)
Sumber data: IMDB