Seri komik Jepang Gintama di Indonesia tentu kalah populer kalau dibandingkan dengan One Piece dan Naruto. Namun, ada hal menarik yang ada dalam manga itu, yakni capaiannya. Gintama sudah beralih wahana ke beberapa versi.
Sejak pertama kali muncul di majalah Weekly Shonen Jump pada 2003, seri shonen manga ini dialih-wahanakan menjadi seri film anime untuk periode 2005-2015.
Pada 2006, Gintama punya versi novelnya. Tahun lalu, versi live-action-nya tayang di bioskop mancanegara termasuk Indonesia. Permainan videonya (video game) pun sudah tersedia.
Soal popularitas di Jepang, komiknya dicetak sebanyak 50 juta kopi. Penjualannya pun mencapai 55 juta kopi. Seri manga ini menjadi salah satu yang terlaris, bahkan mengalahkan Ranma1/2, Inuyasha, Crayon Shin-chan, dan Death Note.
Khusus untuk film live-action perdananya, pada 2017, konon, pendapatan film Gintama mencapai Rp473 miliar. Gintama menjadi film paling laris di Jepang pada tahun itu.
Tentu pencapaian tersebut bikin penasaran. Apa istimewanya Gintama? Lewat live-action keduanya: Gintama 2: Rules Are Made to Be Broken, kita diajak berkenalan.
Sebermula di akhir Zaman Edo, bangsa Alien bernama Amanto (Makhluk Langit) menginvasi Jepang. Para samurai tidak tinggal diam. Mereka membalas serangan lawan.
Empat jenderal memimpin perang melawan makhluk langit, di antaranya Sakata Gintoki, samurai berambut perak, dan Takasugi Shinsuke.
Melawan Alien, tentu perang jauh dari seimbang. Pemimpin tertinggi pemerintahan, Shogun, mengambil jalan belakang. Dia mengabaikan perjuangan para samurai dengan pernyataan menyerahnya dan sodoran kontrak perdamaian di hadapan pemimpin Amanto.
Perang Joui berakhir dengan beberapa syarat, di antaranya, samurai dilarang membawa pedang dan Amanto boleh memasuki wilayah manusia. Pemerintahan Shogun tetap berhak mengawal negeri, tetapi ia hanya sebatas pemerintahan boneka yang sesungguhnya dikuasai Amanto.
Beberapa samurai menolak keputusan Shogun. Yang lain menerima. Sakata Gintoki, Si Iblis Putih, termasuk yang “terpaksa” menerima keputusan. Adapun Takasugi Shinsuke masuk barisan “sakit hati” dan mendirikan Kihetai.
Kihetai dikenal sebagai kelompok kriminal yang berambisi menjatuhkan pemerintahan boneka, Bakufu. Aksinya mendapatkan perlawanan dari samurai lain yang tergabung dalam satuan kepolisian, Shinsengumi.
Dan cerita Gintama, kebanyakan berkisar pada bentrokan antarsamurai dengan pilihan jalannya masing-masing. Lalu apa istimewanya?
Peran Sakata Gintoki yang bikin istimewa. Pascaperang Joui, dia memilih jalan hidup sebagai Yorozuya (pekerja serabutan), semacam samurai freelancer (lepas) yang diupah dari jasanya.
Jangan kira si Sakata Gintoki ini hidup bergelimang harta. Hidupnya tak lepas dari kejaran dan teriakan ibu kos yang meminta bayaran sewa tempat tinggal.
Di sini kekonyolan terjadi. Yorozuya ternyata mempunyai anggota: Kagura dan Shinpachi. Keduanya punya histori dengan Sakata Gintoki.
Kagura adalah perempuan alien bertubuh manusia yang pernah diselamatkan Sakata Gintoki dari kejaran kelompok kriminal. Sedangkan Shinpachi juga orang yang pernah dibantu Sakata Gintoki saat hendak menyelamatkan saudara perempuannya dari kejaran Amanto.
Jadilah GengYorozuya berperan sebagai protagonis cerita. Aksi dan dialognya kebanyakan konyol, tetapi punya selipan pesan moral dan kritik sosial.
Dalam live-action Gintama 2 ini, kita bakal mendapati aksi heroik mereka. Kali ini, tema cerita berkisar pada penyelamatan satuan kepolisian Shinsengumi dari perpecahan.
Jangan pernah berharap akan adanya tayangan apik pada 20—30 menit pertama. Gaya shonen manga (komik untuk konsumsi laki-laki) bakal banyak tersaji.
Tidak ada bentrokan serius dan perang yang berdarah-darah. Yang ada, sebagian besar, cuma lelucon, parodi dari manga lain dan candaan “kotor”.
Namun, justru awalan itu bakal menjadi momen dramatis di akhir cerita. Laiknya manga lain, Gintama juga memiliki selipan kritik sosial dan pesan nilai luhur budaya Jepang.
Kita akan berhadapan dengan sajian adegan betapa para pekerja serabutan punya andil besar dalam penyelamatan satuan kepolisian dari perpecahan.
Kehadiran Itou Kamotaro (Haruma Miura) merupakan pencipta konflik cerita. Bertindak sebagai penasihat kepolisian, dia malah berambisi untuk melakukan kudeta.
Kerja samanya dengan pemimpin Kihetai, Takasugi Shinsuke (Tsuyoshi Domoto), mantan kompatriot Sakata Gintoki di Perang Joui, menebalkan peran antogonisnya.
Namun, di akhir cerita, kita sama sekali tidak membencinya. Rasa iba mungkin kita rasakan karena ternyata dia korban dari pola asuh anak yang keliru.
Ya, ada pesan kekeluargaan di balik cerita yang kelihatan konyol itu. Tema tersebut dibungkus apik dan berhasil merebut hati penikmatnya.
Kita bakal mendapatkan pesan penting tentang persahabatan dan sinergi antarmanusia yang sejatinya di atas segala kepentingan pribadi dan kelompok.
Pada titik itu, kiranya sangat relevan bila kita mengaitkannya dengan kondisi global dewasa ini, saat banyak negara mulai menerapkan proteksi diri dari “pergaulannya” dengan negara lain.
Pada momen itu, ada negara yang terpaksa atau pura-pura menyerah demi kelangsungan hidup masyarakatnya sembari terus menggelorakan pesan kebersamaan dan persahabatan. Situasinya sama seperti konteks dalam film.
Kemudian, bolehlah kita menyimpulkan bahwa Geng Yorozuya (pekerja serabutan), yang kerap dipandang remeh, menjadi sangat penting dan berharga lewat representasi Sakata Gintoki (Oguri Shun), Kagura (Kanna Hashimoto), dan Shinpachi (Masaki Suda).
Kita pun bakal mendapati kesan kebaikan yang menular pada diri Kawakami Bansai (Masataka Kubota), tangan kanan Takasugi Shinsuke, pemimpin tertinggi Kihetai.
Dan Gintama 2, secara resmi, menjadi film konyol dengan selipan kritik sosial dan pesan moral yang apik, cenderung punya relevansi dengan kondisi global dewasa ini. (asw)
Gintama 2: Rules Are Made to Be Broken (2018)
Sutradara: Yuichi Fukuda; Penulis Skenario: Yuichi Fukuda; Produser: Susumu Hieda, Shinzo Matsuhashi; Genre: Komedi, Laga; Durasi: 134 Menit; Perusahaan Produksi: Gintama 2 Film Partners, Plus D; Tanggal Edar: 31 Oktober 2018; Batas Usia Penonton: 17+; Sumber Cerita: Seri shonen manga berjudul Gin Tama karangan Hideaki Sorachi yang dimuat sejak 2003 di Majalah Weekly Shonen Jump
Pemeran: Sakata Gintoki (Oguri Shun), Kagura (Kanna Hashimoto), Shinpachi (Masaki Suda), Kawakami Bansai (Masataka Kubota), Itou Kamotaro (Haruma Miura), Kondo Isao (Kankuro Nakamura), Takasugi Shinsuke (Tsuyoshi Domoto), Hijikata Toshiro (Yuya Yagira)
Sumber data: IMDB
Gin Tama (Seri Film Anime)
Sutradara: Shinji Takamatsu, Yoichi Fujita, Chizuru Miyawaki; Waktu Tayang: 2005—2015
Gin Tama (Seri TV Anime)
Sutradara: Shinji Takamatsu, Yoichi Fujita, Chizuru Miyawaki; Waktu Tayang: 2006—2018
Gin Tama (Novel)
Penulis: Tomohito Osaki; Produksi: 2006—sekarang
Gintama (Film Anime)
Gintama: The Movie (2010)
Gintama: The Movie: The Final Chapter: Be Forever Yorozuya (2013)
Gintama (Live-Action)
Gintama (2017)