Along with The Gods: Perjalanan Religi-cum-Fantasi di Alam Baka

Tolong buang jauh-jauh kesan mengerikan yang mungkin muncul dari produk sinematik berlatar alam baka, Along with The Gods: The Two Worlds (Singwa Hamgge). Film Korea ini jelas di luar kategori tayangan serius dengan sajian aneka siksaan di akhirat dan mengusung cerita penuh kandungan moral nan sarat muatan religius. Beban menyampaikan pesan mulia tersebut tetap ada….

The Killing of a Sacred Deer: Berserah Diri pada Secuplik Hidup yang Ganjil

Sebuah drama mitologi Yunani Kuno menjadi inspirasi cerita sebuah film modern. Tentu saja itu bukan hal baru. Beberapa cerita sangat lawas dari negeri para filsuf itu pernah dijadikan basis untuk penggarapan sebuah film. Sebut saja film Troy (2004), Clash of the Titans (2010), Percy Jackson & the Olympians: The Lightning Thief (2010), dan Wrath of…

Satu Hari Nanti: Pesan Di Balik Sederet Adegan Tabu

Selain untuk menghibur, sebuah film tentu diproduksi untuk menyampaikan pesan. Namun adakalanya, pesan itu disampaikan secara implisit kepada penonton. Lewat cara penyampaian yang tidak langsung seperti itu, pencipta film sebenarnya mau memberikan ruang interpretasi tanpa batas kepada khalayak atas produk sinematik garapannya.

Wind River: Drama Pembunuhan dan Derita Peranakan Suku Indian

Dari Wind River, kabar ratusan hingga ribuan laporan orang hilang tak berpenyelesaian secara laik berembus. Di wilayah penampungan warga asli Amerika itu, perempuan keturunan Suku Indian disebut sering jadi korbannya. Saat ditemukan, mereka teridentifikasi mengalami kekerasan fisik bahkan seksual, tidak jarang berujung kematian.

Anthony Lane, Kritikus Film di The New Yorker

Ia hanya perlu sebaris judul untuk memerikan sensasi yang dirasakan setelah menyaksikan sebuah produk sinematik. Deret kata pengantar tulisan itu bahkan terbaca seperti sebuah ikhtisar atas alur cerita film. Sebuah judul, baginya, mesti berperan sebagai cerita mini dari narasi besar yang ia sampaikan dalam badan tulisan.

Rujukan bagi Penikmat Sinema

Kritikus film pertama peraih Pulitzer, Roger Ebert, pernah mewanti-wanti pelaku sinema agar menyelipkan teladan pada tiap karyanya. Produk sinematik bukan melulu diciptakan untuk memenuhi selera pasar. Misi edukasi harus terus lestari dan terpatri di benak para pekerja industri film.

Col Needham, Aktor di Balik Situs IMDb

Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia menyangka tengah bermimpi saat dirinya berada di tengah kerumunan pelaku sinema pada perhelatan anugerah Piala Oscar. Bahkan pria yang dikenal ramah kepada semua orang ini harus mencubit pipinya berkali-kali untuk memastikan semua yang dilihat dan dirasakan adalah nyata. Termasuk perjumpaannya dengan tokoh perfilman macam Steven Spielberg.

Miss Sloane: Laku Lobi yang Tak Kenal Kompromi

Pernah ada gaduh politik di Indonesia pada pengujung 2015. Ada keterlibatan perusahaan penyedia jasa lobi untuk mengatur pertemuan presiden Jokowi dengan presiden Obama. Asal kabar datang dari tulisan Dosen Ilmu Politik Asia Tenggara di School of Oriental and African Studies, Universitas London, Michael Buehler. Buehler menuliskan artikel di situs new mandala dengan judul waiting in…

Night Bus: Bus Malam Saksi Konflik dan Derita

Pada intro, ingatan kita bakal terseret ke tayangan mula film Harry Potter: gumpalan awan, meski tidak kelam, membetot mata kita selama lima detik lalu dari kepulan awan itu, sorot kamera membidik satu titik di permukaan bumi, mirip aplikasi google earth saat zoom in, yang kemudian menayangkan sebuah terminal bus bernama Rampak. Tapi tenang, Night Bus…

Roger Ebert, Menyelipkan Teladan pada Sinema

Roger Ebert, Si Kritikus Film Pecinta Sinema Ia membangun narasi dengan jujur. Film apik pasti menuai pujian dan tentu saja nyaris dapat empat bintang. Film buruk, siap-siap dapat tomat busuk dan pasti “nyaris” dapat bintang. Tapi tenang, ia tipe orang jenaka. Mustahil ia menghina sebuah karya sinema. Kritiknya dipoles dalam ungkap canda.

Danur: Berbagi Pengalaman Mistik lewat Karya Sinematik

Danur, pada dirinya, sudah menyimpan debar: air yang keluar dari bangkai (mayat) yang membusuk. Sebelum jadi karya sinematik, Danur telah menebar “ngeri” lebih dulu lewat novel garapan Risa Saraswati, Gerbang Dialog Danur. Inilah fiksi misteri yang diadaptasi dari pengalaman pribadi Risa, seorang perempuan indigo, yang diberkati kemampuan melihat hantu, bahkan menjalin pertemanan dengannya.

Roger Ebert, Si Kritikus Ulung Pencinta Sinema

Ia larut dalam lamunan: seperti ada yang salah pada profesinya. Orang lain tampak hidup normal. Bangun pagi, mulai kerja saat hari terang, bercengkerama dengan kolega, bersiap pulang kala senja, tidur di waktu langit gelap. Tapi pria ini cuma punya satu kesamaan dengan “orang normal” itu. Sama-sama bangun pagi. Sisanya, jauh dari gaya hidup orang kebanyakan.