Menanti Aksi Olivia Munn, Terduga Korban Pelecehan Seksual, di Critics’ Choice Awards 2018

Di pengujung tahun lalu, jagat perfilman Hollywood diterpa isu pelecehan seksual. Seorang perempuan, pada Oktober 2017, mengaku diperkosa oleh sutradara beken, Brett Ratner (48 tahun). Alih-alih dianggap isapan jempol semata, kabar skandal itu semakin kencang menerpa Ratner setelah tujuh orang aktris, pada November lalu, menuduhnya telah melakukan pelecehan seksual atas mereka.

Anthony Lane, Kritikus Film di The New Yorker

Ia hanya perlu sebaris judul untuk memerikan sensasi yang dirasakan setelah menyaksikan sebuah produk sinematik. Deret kata pengantar tulisan itu bahkan terbaca seperti sebuah ikhtisar atas alur cerita film. Sebuah judul, baginya, mesti berperan sebagai cerita mini dari narasi besar yang ia sampaikan dalam badan tulisan.

Rujukan bagi Penikmat Sinema

Kritikus film pertama peraih Pulitzer, Roger Ebert, pernah mewanti-wanti pelaku sinema agar menyelipkan teladan pada tiap karyanya. Produk sinematik bukan melulu diciptakan untuk memenuhi selera pasar. Misi edukasi harus terus lestari dan terpatri di benak para pekerja industri film.

Col Needham, Aktor di Balik Situs IMDb

Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia menyangka tengah bermimpi saat dirinya berada di tengah kerumunan pelaku sinema pada perhelatan anugerah Piala Oscar. Bahkan pria yang dikenal ramah kepada semua orang ini harus mencubit pipinya berkali-kali untuk memastikan semua yang dilihat dan dirasakan adalah nyata. Termasuk perjumpaannya dengan tokoh perfilman macam Steven Spielberg.

Roger Ebert, Menyelipkan Teladan pada Sinema

Roger Ebert, Si Kritikus Film Pecinta Sinema Ia membangun narasi dengan jujur. Film apik pasti menuai pujian dan tentu saja nyaris dapat empat bintang. Film buruk, siap-siap dapat tomat busuk dan pasti “nyaris” dapat bintang. Tapi tenang, ia tipe orang jenaka. Mustahil ia menghina sebuah karya sinema. Kritiknya dipoles dalam ungkap canda.

Roger Ebert, Si Kritikus Ulung Pencinta Sinema

Ia larut dalam lamunan: seperti ada yang salah pada profesinya. Orang lain tampak hidup normal. Bangun pagi, mulai kerja saat hari terang, bercengkerama dengan kolega, bersiap pulang kala senja, tidur di waktu langit gelap. Tapi pria ini cuma punya satu kesamaan dengan “orang normal” itu. Sama-sama bangun pagi. Sisanya, jauh dari gaya hidup orang kebanyakan.