Anthony Lane, Kritikus Film di The New Yorker

Ia hanya perlu sebaris judul untuk memerikan sensasi yang dirasakan setelah menyaksikan sebuah produk sinematik. Deret kata pengantar tulisan itu bahkan terbaca seperti sebuah ikhtisar atas alur cerita film. Sebuah judul, baginya, mesti berperan sebagai cerita mini dari narasi besar yang ia sampaikan dalam badan tulisan.

Rujukan bagi Penikmat Sinema

Kritikus film pertama peraih Pulitzer, Roger Ebert, pernah mewanti-wanti pelaku sinema agar menyelipkan teladan pada tiap karyanya. Produk sinematik bukan melulu diciptakan untuk memenuhi selera pasar. Misi edukasi harus terus lestari dan terpatri di benak para pekerja industri film.

Col Needham, Aktor di Balik Situs IMDb

Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia menyangka tengah bermimpi saat dirinya berada di tengah kerumunan pelaku sinema pada perhelatan anugerah Piala Oscar. Bahkan pria yang dikenal ramah kepada semua orang ini harus mencubit pipinya berkali-kali untuk memastikan semua yang dilihat dan dirasakan adalah nyata. Termasuk perjumpaannya dengan tokoh perfilman macam Steven Spielberg.

Miss Sloane: Laku Lobi yang Tak Kenal Kompromi

Pernah ada gaduh politik di Indonesia pada pengujung 2015. Ada keterlibatan perusahaan penyedia jasa lobi untuk mengatur pertemuan presiden Jokowi dengan presiden Obama. Asal kabar datang dari tulisan Dosen Ilmu Politik Asia Tenggara di School of Oriental and African Studies, Universitas London, Michael Buehler. Buehler menuliskan artikel di situs new mandala dengan judul waiting in…

Night Bus: Bus Malam Saksi Konflik dan Derita

Pada intro, ingatan kita bakal terseret ke tayangan mula film Harry Potter: gumpalan awan, meski tidak kelam, membetot mata kita selama lima detik lalu dari kepulan awan itu, sorot kamera membidik satu titik di permukaan bumi, mirip aplikasi google earth saat zoom in, yang kemudian menayangkan sebuah terminal bus bernama Rampak. Tapi tenang, Night Bus…

Roger Ebert, Menyelipkan Teladan pada Sinema

Roger Ebert, Si Kritikus Film Pecinta Sinema Ia membangun narasi dengan jujur. Film apik pasti menuai pujian dan tentu saja nyaris dapat empat bintang. Film buruk, siap-siap dapat tomat busuk dan pasti “nyaris” dapat bintang. Tapi tenang, ia tipe orang jenaka. Mustahil ia menghina sebuah karya sinema. Kritiknya dipoles dalam ungkap canda.

Danur: Berbagi Pengalaman Mistik lewat Karya Sinematik

Danur, pada dirinya, sudah menyimpan debar: air yang keluar dari bangkai (mayat) yang membusuk. Sebelum jadi karya sinematik, Danur telah menebar “ngeri” lebih dulu lewat novel garapan Risa Saraswati, Gerbang Dialog Danur. Inilah fiksi misteri yang diadaptasi dari pengalaman pribadi Risa, seorang perempuan indigo, yang diberkati kemampuan melihat hantu, bahkan menjalin pertemanan dengannya.

Roger Ebert, Si Kritikus Ulung Pencinta Sinema

Ia larut dalam lamunan: seperti ada yang salah pada profesinya. Orang lain tampak hidup normal. Bangun pagi, mulai kerja saat hari terang, bercengkerama dengan kolega, bersiap pulang kala senja, tidur di waktu langit gelap. Tapi pria ini cuma punya satu kesamaan dengan “orang normal” itu. Sama-sama bangun pagi. Sisanya, jauh dari gaya hidup orang kebanyakan.

The Invitation: Menjagal, Melepas Agonia

Will (Logan Marshall-Green) seperti berimaji di balik kemudi mobilnya meskipun sang kekasih, Kira (Emayatzy Corinealdi) menemani di sisinya. Brak!!! tetiba ada tumbukan keras di muka luar mobil Will.

The Monuments Men: Bertaruh Nyawa Demi Jutaan Karya

Franklin Delano Roosevelt (Michael Dalton) menyimak dengan seksama paparan Frank Stokes (George Clooney). Presiden ke-32 Amerika Serikat ini bukan tanpa alasan memusatkan pandang ke tiap slide yang tersaji. Ada ancaman serius: upaya melumat sejarah manusia.