Produk sinematik ini lebih banyak menyoroti kisah Clara Stahlbaum (Mackenzie Foy) dan keluarganya serta upayanya menemukan identitas diri, alih-alih mengeksplorasi petualangan di empat alam fantasi dan berkisah tentang peran The Nutcracker atau si prajurit.
Sejak kematian ibunya, Marie Stahlbaum (Anna Madeley), Clara lebih senang menjalani hidup di kamar atap dan menjauhi hiruk-pikuk. Dia kelihatan asyik mengujicoba “mainan” mekanikanya—laiknya Domino Effect Game—dan menikmati tiap detailnya.
Mungkin dengan cara itu, dia bisa sejenak membebaskan pikiran dari kenangan bersama mendiang ibunya. Namun sayang, kenangan itu, rupanya, begitu kuat melekat dalam benaknya.
Buktinya, dia memprotes cara ayahnya, Tuan Stahlbaum (Matthew Macfadyen), menghias pohon Natal. Dia menilai itu bukan cara yang biasa dilakukan ibunya. Dia meradang hingga akhirnya kembali tenang setelah ayahnya memberikan hadiah Natal yang dikatakannya sebagai pemberian terakhir ibunya.
Pada malam Natal itu, kakaknya kebagian gaun yang anggun. Adiknya mendapatkan mainan kesukaan. Sedangkan Clara memperoleh benda seperti telur yang diyakini ada hal istimewa di dalamnya. Hal itu diperkuat dengan sepucuk kertas bertulisan tangan mendiang ibunya: Everything you need is inside.
Namun, tentu saja, Clara tidak mungkin mengetahui isi benda mirip telur tersebut. Benda itu terkunci. Satu-satunya petunjuk hanyalah ukiran bertulisan “Drosselmeyer”. Dialah ayah baptis Clara yang diperankan Morgan Freeman.
Malam Natal yang seharusnya diliputi nuansa suka cita sama sekali tidak dirasakan oleh Clara. Dia gelisah mencari kunci pembuka benda serupa telur itu.
Di tengah kebingungan itu, Drosselmeyer menunjukkan jalan sekaligus kesempatan bagi Clara untuk berpetualang ke alam fantasi. Perjalanan itu dilakukannya dengan meninggalkan perasaan gelisah di hati ayahnya.
Seketika, sesaat setelah menyusuri salah satu koridor di kediaman megah milik Drosselmeyer, Clara berada di dunia lain. Dia menemukan kunci pembuka telur itu tergantung di batang pohon. Namun, belum juga tergapai, kunci itu dirampas.
Di tengah pengejaran perampas, dia berkenalan dengan The Nutcracker, Kapten Philip (Jayden Fowora-Knight). Mereka, kemudian, dikejar oleh tikus raksasa yang menjijikan dan “mampir” di Alam Hiburan (Land of Amusements) yang dikuasai oleh Mother Ginger (Helen Mirren).
Saat ancaman datang mendekati Clara, Kapten Philip datang dan menyelamatkannya dari bahaya. Dia langsung membawanya ke sebuah kastil.
Rupanya, kastil itu tempat tinggal mendiang ibu Clara. Di sana dia bertemu dengan tiga pemimpin alam.
Ada Pemimpin Alam Gula-Gula (Land of Sweets), Sugar Plum (Keira Knightly); Bupati Alam Salju (Land of Snowflakes), Shiver (Richard E. Grant); dan Penguasa Alam Bunga (Land of Flowers), Hawthorne (Eugenio Derbez).
Clara diajak berkeliling ke tiga alam itu sembari diingatkan untuk jangan pernah menginjakkan kaki di Alam Hiburan. Namun sayang, eksplorasi khayali di tiga alam fantasi itu kurang memuaskan.
Dari 99 menit durasi film, hanya sekitar 10 menit kita diajak melihat-lihat tiga alam itu, yang sebenarnya hampir tidak ada hal istimewa di dalamnya.
Alam hiburan yang dikuasai Mother Ginger ternyata hanya sejenis taman bermain dengan tenda sirkus yang menjadi istananya. Di mana fantasi alamnya?
Padahal sebagai penonton, kita berharap, sebuah film fantasi, setidaknya, menyajikan suatu keadaan, tempat, dan karakter yang khayali, jauh dari gambaran riil yang sehari-hari terlihat di dunia.
Namun, sudahlah! Kita nikmati dulu hutan, lahan bersalju, dan beberapa situasi serta makhluk modifikasi yang sesungguhnya wujud aslinya tidak jauh berbeda dengan yang ada di bumi.
Agaknya, film ini memang hanya mau menceritakan upaya Clara mencari jati dirinya. Dan, memang betul, perubahan karakter terjadi pada Clara.
Clara, yang suka dengan kesendirian dan tidak memedulikan orang di sekelilingnya, termasuk perasaan ayahnya, terutama setelah kematian ibunya, tiba-tiba mempunyai kepedulian yang besar terhadap sekitar. Dia peduli akan nasib empat alam fantasi peninggalan mendiang ibunya itu.
Akhirnya, konflik cerita hanya sebatas pada perebutan kepemilikan kunci yang dapat menguak jati diri Clara dan mampu memberikan “nyawa”.
Kita tentu tahu akhir ceritanya akan seperti apa, apalagi latar waktu adalah malam perayaan Natal: malam penuh suka cita. Dan, ya, pada kata “Natal” itu kita dibikin bingung dengan dialog para pemerannya.
Penguasa alam sama sekali tidak mengenal apa itu perayaan Natal, tetapi mereka menyebut dua atau tiga kali hutan pohon Natal (Christmas Tree Forest).
Lagi-lagi, tekanan cerita seperti mengarahkan pada pencarian identitas protagonis kita, Clara Stahlbaum, alih-alih tentang The Nutcracker dan empat alam fantasi.
Ditambah lagi, ritme (pace) cerita berjalan pelan sekali, seperti mau mengeksplorasi dialog, menguatkan nuansa, dan mendramatisasi keadaan. Efeknya, muncul sejumlah celah pada dialog, jalan cerita, dan pengembangan konflik.
Meski begitu, untuk tujuan memanjakan mata penikmatnya, film arahan Lasse Hallstrom dan Joe Johnston cukup memuaskan. Adapun untuk konflik pencarian jati diri Clara, resolusinya juga cukup indah.
The Nutcrakcer and the Four Realms seperti hanya menjadikan The Nutcracker dan empat alam fantasi sebagai bumbu pemanis cerita. Hidangan utamanya, sebenarnya, ada pada pencarian identitas diri Clara.
Bukankan seharusnya terbalik? Bukankah film fantasi semestinya mengeksplorasi keadaan khayali dengan balutan konflik pada karakter, tema atau jalan ceritanya? Ah, mungkin saya terlalu berharap besar pada film ini. Lebih baik, kita nikmati saja sajian visualnya, ya. (asw)
The Nutcrakcer and The Four Realms (2018)
Sutradara: Lasse Hallstrom, Joe Johnston; Penulis Skenario: Ashleigh Powell; Produser: Mark Gordon, Larry Franco; Genre: Fantasi/Petualangan; Durasi: 99 Menit; Perusahaan Produksi: Walt Disney Pictures, The Mark Gordon Company; Bujet Film: $ 133 Juta; Tanggal Edar: 2 November 2018; Batas Usia Penonton: Semua Umur; Ide Cerita: Berdasarkan cerita pendek berjudul The Nutcracker and the Mouse King (1816) karangan E. T. A Hoffmann
Pemeran: Clara Stahlbaum (Mackenzie Foy), Kapten Philip (Jayden Fowora-Knight), Sugar Plum (Keira Knightly), Hawthorne (Eugenio Derbez), Tuan Stahlbaum (Matthew Macfadyen), Shiver (Richard E. Grant), Mother Ginger (Helen Mirren), Drosselmeyer (Morgan Freeman), Marie Stahlbaum (Anna Madeley)
Sumber data: IMDB