Ambisi terbesar Adolf Hitler dan kendaraan politiknya, Nazi, adalah membangun kerajaan yang mampu bertahan selama seribu tahun (Tausendjähriges Reich). Untuk mencapainya, segala cara ditempuh, termasuk mengorbankan kemanusiaan.
Jerman, di bawah kendali Hitler, menjajah Eropa dengan tanpa ampun. Penghuninya—yang menolak takluk—dibantai. Perempuannya diperkosa. Anak-anak dilatih dan dipaksa bertempur. Mereka menjadi kekuatan paramiliter, semata untuk menopang kekurangan sumber daya militer Jerman Nazi.
Dari kacamata Hitler, cara itu terlihat berhasil. Pada tiga tahun pertama Perang Dunia II, Jerman Nazi menduduki separuh Eropa. Hingga akhirnya, upayanya untuk terus memperluas koloni mendapatkan adangan dari pasukan militer Sekutu.
Invansi Sekutu ke Normandia pada 6 Juni 1944 menjadi tonggak kejatuhan Jerman Nazi. Dengan kode operasi Overlord, para tentara Sekutu bertempur dengan satu tujuan: melumpuhkan sang maharaja (overlord) Hitler.
Namun, dalam produk sinematik Overlord arahan Julius Avery, sorotannya bukan semangat histori mengenai pertempuran tersebut, melainkan cemoohnya mengenai “kerajaan seribu tahun” Nazi Hitler.
Dari sudut pandangnya, kita diajak menjadi saksi mata sebuah malam sebelum pendaratan tentara sekutu di Pantai Normandia yang menjadi pintu masuk ke tanah jajahan Jerman Nazi. Dengan membawa satu misi penting, sejumlah parasutis diterjunkan ke wilayah musuh.
Para penerjun payung itu membawa misi penghancuran menara pengacau radio yang letaknya berada di sebuah gereja tua. Kehancuran menara itu diharapkan dapat mempermudah masuknya pesawat tempur Sekutu ke koloni Jerman Nazi.
Akan tetapi, bakal “kerajaan seribu tahun” Jerman Nazi bukan tempat yang mudah ditembus, termasuk oleh sekawanan pesawat tempur Sekutu. Kita pun kemudian menyaksikan pembantaian terhadap pesawat tempur Sekutu dengan tayangan sinematografi yang sungguh mencekam.
Benar saja, misi penghancuran menara pengacau radio—yang awalnya ditopang oleh puluhan tentara—kemudian hanya mengandalkan lima prajurit yang selamat dari serangan: Kopral Ford (Wyatt Russell), Boyce (Jovan Adepo), Tibbet (John Magaro), Chase (Iain De Caestecker), dan Dawson.
Adapun tentara lainnya tewas sebelum misi tuntas. Sebagian digambarkan mati tergantung di atas pohon karena pendaratan parasut yang gagal atau terkena tembakan musuh. Bahkan, Dawson pun mesti gugur terkena ranjau bom.
Untunglah para penyintas itu bertemu dengan seorang perempuan setempat bernama Chloe (Mathilde Ollivier). Meski harus terlebih dulu terlibat dalam sedikit drama, keempat prajurit itu, akhirnya beroleh kepercayaan Chloe dan mendapatkan tempat tinggal sementara darinya.
Namun, kemudian kita sadar: ini bukan film perang dengan “pesta” desingan peluru, “muncratan” anggota tubuh, dan dialog ringan penuh makna yang seringkali bikin kita tersadar bahwa perang memang selalu makan banyak korban. Kendati begitu, lelehan darah tetap tersaji.
Bagian cerita paling penting justru berkisar pada keberadaan makhluk aneh di tengah isu perang. Jerman Nazi diceritakan tengah menciptakan pasukan militer anti-mati. Sosoknya mirip zombie. Namun, yang satu ini perawakannya tampak kekar dengan tatapan mata yang kosong, tetapi beringas.
Sosok itu hanya tampak menjelang akhir cerita. Adapun pada bagian tengahnya, cerita berpusat pada penciptaan makhluk tersebut di laboratorium tersembunyi dalam gereja, tidak jauh dari lokasi menara pengacau radio berada.
Prajurit Boyce mengetahui hal tersebut. Dan seketika itu juga misi pun bertambah. Selain penghancuran menara pengacau radio, tentara penyintas itu mesti memusnahkan laboratorium percobaan itu.
Lalu, misi bertambah satu lagi, yakni menyelamatkan seorang bocah bernama Paul (Gianny Taufer), adik Chloe, yang ditawan pemimpin Nazi setempat, Wafner (Pilou Asbaek).
Sebenarnya, jalan cerita film ini sudah jelas resolusinya, apalagi misinya sudah terbaca. Namun, yang menarik dari cerita ini adalah cara menafsir peristiwa sejarah dengan balutan fiksi yang cenderung mencemooh.
Cemooh itu tampak kentara saat Wafner mengatakan kepada tentara penyintas Sekutu yang menanyakan maksud dari eksperimen Jerman Nazi di sebuah gereja tua:
A thousand-year Reich requires thousand-year soldiers.
Kita tahu, asosiasi thousand-year soldiers adalah zombie-zombie itu. Kita pun kemudian mendapatkan petunjuk ketika Boyce menemukan serum pembangkit orang mati.
Itu jelas ejekan bagi Jerman Nazi yang memimpikan keberlangsungan pemerintahannya selama seribu tahun. Sebab, hal itu tidak mungkin terjadi, apalagi cara-cara yang ditempuh untuk mencapainya melawan kemanusiaan.
Thousand-year soldiers dalam rupa zombie pun akhirnya cuma menjadi lelucon dan cemooh atas mimpi itu, sebuah kesan yang kemudian ditambah lagi dengan citra jahat Jerman Nazi dalam film ini.
Lihat saja bagaimana pemeran perempuan dicitrakan dalam film ini. Chloe, satu-satunya heroine kita, menjadi korban pelecehan seksual seorang komandan Nazi, Wafner. Perhatikan juga sosok bibi Chloe yang menjalani hidup sebagai zombie akibat menjadi korban percobaan medis Nazi.
Lihat juga kepala perempuan tanpa badan yang meringis kesakitan meminta tolong di laboratorium percobaan Jerman Nazi. Terakhir, cermati siapa di antara suami-istri di luar kediaman Chloe yang ditembak tentara Nazi? Dia hanya perempuan yang meminta belas kasihan agar suaminya dibebaskan.
Kebengisan Jerman Nazi yang dipotret secara penuh dalam Overlord, terutama terhadap pemeran perempuan, melengkapi cemooh “kerajaan seribu tahun” impian Hitler.
Dan menonton Overlord memang menyaksikan aksi heroik Sekutu, terutama Amerika Serikat, dalam menyikat habis semua tentara Jerman Nazi yang bengis. (asw)
Overlord (2018)
Sutradara: Julius Avery; Penulis Skenario: Billy Ray, Mark L. Smith; Produser: J.J Abrams, Lindsey Weber; Genre: Horor/Laga/Drama Perang; Durasi: 109 Menit; Perusahaan Produksi: Bad Robot Productions, Paramount Pictures; Bujet Film: $ 38 Juta; Tanggal Edar: 7 November 2018; Batas Usia Penonton: 17+
Pemeran: Boyce (Jovan Adepo), Kopral Ford (Wyatt Russell), Chloe (Mathilde Ollivier), Tibbet (John Magaro), Paul (Gianny Taufer), Wafner (Pilou Asbaek), Rosenfeld (Dominic Applewhite), Chase (Iain De Caestecker), dr. Schmidt (Erich Redman)
Sumber data: IMDB